![]() |
| Kusdin (Dosen ITBM Kolaka) |
Mengukir Asa di Hari Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Langit Sulawesi Tenggara masih kelabu ketika Bu Maya membuka pintu kelasnya. Tangannya gemulai menata buku-buku di meja, lalu matanya menerawang ke luar jendela—menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Hari itu, 2 Mei 2026, tepat peringatan Hari Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
“Bu, kok murid kami hanya tiga orang?” tanya Maya, guru muda yang baru setahun mengabdi.
Bu Maya tersenyum tipis. “Itulah tantangan kita, sari. Di desa ini, banyak orang tua yang lebih memilih anaknya membantu di sawah daripada bersekolah.”
Sari menunduk. Jari-jarinya sibuk merapikan kapur tulis yang nyaris habis. “Tapi, Bu, hari ini istimewa. Hardiknas. Seharusnya...”
“Seharusnya upacara, yel-yel, lomba, dan semua kemeriahan,” potong Bu Maya lembut. “Tapi esensi pendidikan bukan di sana, Sari. Esensinya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa—satu per satu anak, sekecil apa pun.”
Ketiga murid itu mulai berdatangan. Yeni dengan rambut kusut yang tak pernah disisir. Budi yang buku tasnya bolong di kanan kiri. Dan Kecil—begitu mereka memanggilnya—anak paling pendek di desa dengan mata yang selalu menyala-nyala.
“Ibu, hari ini kita belajar apa?” tanya Yeni sambil duduk di bangku kayu yang terhuyung.
“Hari ini kita belajar tentang mimpi,” jawab Bu Maya.
Sari mengernyit. Itu tidak ada dalam kurikulum.
Bu Maya maju ke papan tulis. Kapur putihnya menari-nari, melukiskan gunung, sekolah megah, dan seorang anak dengan seragam rapi.
“Ini adalah mimpi saya waktu kecil,” ujarnya. “Saya ingin sekolah setinggi-tingginya, lalu kembali ke desa ini.”
Budi mengangkat tangan. “Kalau mimpi saya, Bu, ingin menjadi pilot. Saya mau terbang tinggi dan melihat dunia dari atas.”
Wati tersenyum malu. “Saya ingin jadi guru, seperti Ibu.”
Kecil terdiam paling lama. “Saya ingin desa ini punya sekolah yang bagus. Dengan perpustakaan. Dan semua anak bisa sekolah tanpa harus bekerja di sawah,” katanya lirih.
Sunyi. Kemudian Bu Maya bertepuk tangan. “Itulah pendidikan, anak-anak. Bukan hanya tentang angka dan nilai. Tapi tentang membuka mata bahwa masa depan tidak harus seperti hari ini.”
Matahari mulai naik ketika mereka keluar untuk istirahat. Di lapangan tanah yang kering, Sari tiba-tiba berinisiatif. “Bagaimana kalau kita buat upacara bendera sederhana?”
Mereka menggunakan bambu sebagai tiang. Ndari melukis bendera merah putih di kertas bekas. Tanpa lagu Indonesia Raya yang megah, tanpa pasukan pengibar bendera yang gagah. Tiga anak, dua guru, dan sebatang bambu.
“Ibu, kenapa pendidikan itu penting?” tanya Kecil ketika bendera buatan itu mulai berkibar pelan.
Bu Maya berlutut, menyamakan tinggi dengan Kecil. “Karena kalian adalah pemilik masa depan negeri ini. Dan dengan pendidikan, kalian akan memiliki alat untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini. Bukan hanya untuk diri kalian sendiri, tapi untuk seluruh Indonesia.”
Air mata Sari jatuh. Dia teringat sahabat-sahabatnya yang memilih mengajar di kota, mengejar gaji besar. Tapi di sini, di sudus desa yang nyaris dilupakan, ada dua guru yang percaya bahwa sebatang kapur bisa mengubah dunia.
Sore harinya, sebelum pulang, Bu Maya membagikan secarik kertas kepada ketiga muridnya. “Tuliskan satu tekad kalian di hari Pendidikan ini.”
Yeni menulis: Aku akan menjadi guru yang pulang ke desa.
Budi menulis: Aku akan belajar keras meskipun harus berjalan 5 kilometer.
Kecil menulis dengan tulisan terbolak-balik: Aku akan membangun perpustakaan pertama di desa ini.
Bu Maya menggantungkan ketiga tekad itu di dinding kelas. “Setiap hari, kalian lihat ini. Ingat, pendidikan bukan hadiah yang diberikan negara kepada kalian. Pendidikan adalah hak kalian yang harus kalian perjuangkan.”
Malam harinya, di ruang guru yang sempit, Sari menulis di buku hariannya:
Hari ini aku belajar arti sebenarnya dari Hari Pendidikan Nasional. Bukan tentang upacara megah atau pidato pejabat. Tapi tentang tekad tiga anak desa yang percaya bahwa mimpi mereka layak diperjuangkan. Dan tentang dua guru yang memilih setia di tempat yang paling membutuhkan. Inilah pendidikan—perlawanan sunyi terhadap kebodohan, dengan senjata bernama cinta dan ketekunan.
Selamat Hardiknas, Indonesia. Kami tidak banyak, tapi kami tidak akan pernah berhenti.
Mentransfer ilmu, dan membangun karakter generasi bangsa kearah generasi yang lebih maju dan bermartabat.
Sabtu, 2 Mei 2026
Penulis
Kusdin Direktur Jejarisultra.com (Sek.JMSI)
