Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

SELAMAT DATANG DI WEBSITE JEJARISULTRA.COM TEGAS DAN TERPERCAYA

Indeks Berita

Tag Terpopuler

ANTARA AKSES, KEADILAN, DAN ARAH MASA DEPAN

Jumat, 01 Mei 2026 | Mei 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T03:55:39Z

 


ANTARA AKSES, KEADILAN, DAN ARAH MASA DEPAN


Hari Pendidikan Nasional sering kali hadir sebagai perayaan penuh semangat, simbol, dan kata-kata besar tentang kemajuan. Namun jika kita ingin jujur, hari ini seharusnya lebih tepat menjadi ruang refleksi yang kritis, sejauh mana pendidikan kita benar-benar bergerak ke arah yang adil dan memerdekakan?


"Bukanlah kemajuan jika kita membangun jembatan emas, namun hanya setengah orang yang diizinkan menyeberang."


Kita tidak bisa menutup mata bahwa kemajuan memang ada. Digitalisasi mulai menjangkau sekolah, kurikulum terus diperbarui, dan akses pendidikan semakin luas. 


Namun, di balik capaian itu, tersimpan jurang yang belum tertutup. Masih banyak sekolah dengan fasilitas minim, terutama di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Ketimpangan kualitas pembelajaran antara kota dan daerah masih terasa nyata.


 Di sisi lain, kesejahteraan guru belum sepenuhnya terjamin, bahkan dalam beberapa kasus muncul fenomena kriminalisasi terhadap guru yang justru melemahkan posisi mereka sebagai pendidik. Dalam konteks ini, kita perlu berani mengatakan. akses yang meluas belum otomatis menghadirkan keadilan. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi hak yang setara bagi semua.


Lebih dalam lagi, kita perlu mempertanyakan arah pendidikan itu sendiri. Apakah sistem yang ada benar-benar membentuk manusia yang berpikir kritis, mandiri, dan berkarakter? Ataukah kita masih terjebak dalam pola lama hafalan, orientasi angka, dan tekanan ujian? Jika sekolah masih lebih sibuk mengejar standar administratif daripada membangun daya pikir dan kepekaan sosial siswa, maka ada yang perlu dikoreksi secara mendasar.


 Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan tempat di mana siswa belajar memahami dunia, bukan sekadar menghafal jawaban yang sudah tersedia.


Namun, menyederhanakan persoalan pendidikan hanya sebagai tanggung jawab pemerintah adalah kekeliruan. Pendidikan adalah ekosistem. Orang tua memiliki peran dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak. 


Guru menjadi ujung tombak yang menerjemahkan kebijakan ke dalam praktik nyata. Masyarakat menciptakan lingkungan sosial yang bisa mendukung atau justru menghambat proses belajar. 


Bahkan siswa sendiri adalah subjek aktif yang menentukan arah belajarnya. Menyalahkan satu pihak saja tidak akan menyelesaikan persoalan yang kompleks ini, justru mempersempit cara pandang kita.


"Jika sebuah taman layu, jangan hanya salahkan hujan, lihatlah tanah, lihatlah pupuk, lihatlah tangan yang tak pernah menyiram."

Tantangan kita adalah bergerak bersama. Tidak bisa lagi seorang guru disalahkan sendirian atas rendahnya literasi.


 Tidak adil pula hanya pemerintah yang dipersalahkan saat orientasi pendidikan masih berputar pada angka. Ia adalah masalah kolektif yang butuh keberanian kolektif.


Di tengah berbagai persoalan tersebut, masih ada ruang untuk optimisme tetapi optimisme yang tidak naif. Banyak guru tetap mengajar dengan dedikasi tinggi meski dalam keterbatasan. 


Komunitas-komunitas belajar tumbuh secara mandiri, menghadirkan alternatif pendidikan yang lebih kontekstual dan relevan. Anak-anak muda mulai menyadari bahwa pendidikan tidak hanya soal ijazah, tetapi juga tentang kemampuan memahami dan mengolah realitas.


 Ini bukan sekadar kisah inspiratif yang menyentuh emosi, melainkan bukti nyata bahwa perubahan itu mungkin terjadi.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Cukup sudah pertanyaan "apa yang salah?" sekarang waktunya bertindak. Opini tanpa aksi adalah omong kosong yang berparas bijak.


1. Perkuat literasi dasar, bukan sekadar angka melek huruf, tetapi   kemampuan memahami, mengkritisi, dan mencipta makna.

2. Pautkan pendidikan dengan potensi lokal. Nelayan akan lebih paham fisika ombak daripada rumus di papan tulis. Petani akan lebih mengerti kimia tanah dari pada hafalan tabel periodik. Belajarlah dari akar rumput.


3. Dorong pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata. Bukan untuk apa nilai matematika, tetapi untuk apa matematika menyelamatkan hidup mereka.

4. Hentikan kriminalisasi terhadap guru, ganti dengan perlindungan dan apresiasi. Karena guru yang takut mendidik tak akan pernah melahirkan generasi yang berani.


Dan yang paling mendasar. libatkan siswa sebagai subjek, bukan objek. Tanyakan pada mereka, bentuk pendidikan seperti apa yang mereka rindukan. Karena masa depan bukan hanya milik kita yang tua. ia sepenuhnya milik mereka yang masih muda.


"Jika kita tidak mengubah arah pendidikan, kita akan berakhir di tempat yang sama, hanya lebih cepat."

Maka, di Hari Pendidikan Nasional ini, biarkan kita berhenti sejenak dari euforia bendera dan lomba pidato. Duduklah dalam hening. Renungkan: apakah akses yang kita bangun sudah berkeadilan? Apakah arah yang kita tuju ada di peta peradaban yang sejati? Dan yang paling menggugah setelah semua kritik meledak di ruang publik, apa yang akan kita lakukan mulai esok pagi?


Jangan jawab dengan tepuk tangan. Jawablah dengan tindakan. Karena pendidikan tidak pernah membutuhkan penonton ia membutuhkan pejuang.


Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari kita wujudkan keadilan, bukan sekadar akses. Dan mari kita tentukan arah, bukan sekadar ikut arus.


Penulis : Hasmadin (Guru SD Wonuambuteo) 


×
Berita Terbaru Update