Ribuan Hektare Sawah Di Koltim Kekeringan, Petani Koltim Terancam Gagal Panen, Ancam Krisis Pangan
Koltim, Jejarisultra. com,
Terancam gagal panen pada musim tanam tahun ini di beberapa di Kabupaten Kolaka Timur. Pasalnya, padi sawah petani yang mereka sudah di tanam kini berumur dua bulan dilanda kekeringan karena efek kemarau panjang.
Diantaranya daerah yang
Dilanda kekeringan yakni Desa Ulumowewe, Desa Nelombu, Kelurahan Woitombo, Kelurahan Inebenggi, Desa Watupute, Desa Lapangisi, Desa Sabi Sabila, Kelurahan Horodopi, Desa Solewatu, Desa Tawarombadaka, dan Desa Tawa-Tawaro, bahkan hampir semua kecamatan di Koltim mengalami kekeringan.
Ketua Komisi II DPRD Koltim, Suprianto menyampaikan, kekurangan air untuk mengaliri pada sawah petani harus cepat dicarikan solusinya supaya proyeksi ratusan hektare padi sawah bisa diselamatkan. Apalagi masa tanam sudah memasuki dua bulan umur padi sejak ditanam.
Menurutnya, umur padi rentang tidak berkembang baik bahkan terancam mati atau gagal panen total.
Kader Partai Gerindra Koltim ini mengapresiasi
Kegigihan petani mowewe solusi sumber air di sawahnya dengan usaha mandiri, bayar sendiri tukang sumur bor, agar padi sawahnya tidak kekeringan.
"Saya minta tindakan cepat Pemda Koltim untuk selamatkan padi petani agar tidak mati karena ketiadaan air. Pemkab Koltim harus hadir memberikan solusi petani agar masyarakat bisa terbantu. Kalau kekeringan terus menerus maka stok pangan bisa menipis bahkan kekurangan beras,"ujar Suprianto, Jumat, (24/4/2026).
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Koltim, Ridwan mengatakan, sejak tanggal 7 April 2026, ia telah himbau semua teman koordinator BPP untuk menyampaikan ke Gapoktan dan Poktan untuk menyiagakan semua pompa yang pernah kita distribusikan tahun 2023 dan 2024.
Sembari kami jjuga kami terus menginventarisasi lokasi-lokasi sawah terdampak kekeringan yang masih memiliki sumber air untuk dilakukan pompanisasi. Hanya memang beberapa lokasi sumber airnya sudah kering.
Sehingga yang seperti ini kita usulkan pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) melalui inpres. Hanya memang ini sifatnya mitigasi jangka panjang.
Kemarin Kamis, 23 April 2026 Pemda sudah melakukan rapat koordinasi dengan melibatkan semua OPD terkait untuk menetapkan status tanggap darurat bencana.
"Karena hal ini adalah fenomena alam (el Nino). Dengan penetapan status tanggap darurat kiranya kita dapat segera melakukan langkah-langkah taktis yang bersifat segera untuk menyelamatkan pertanaman padi petani dengan menggunakan anggaran BTT atau dengan meminta bantuan kepada lembaga atau instansi pemerintah lainnya yang kiranya menyediakan anggaran untuk penanggulangan bencana. Semua kecamatan mengalami kekeringan. Minus Kecamatan Ladongi karena ada waduknya. Dan disitu juga saat ini sedang masa panen, " imbuhnya. (kus)
Saat ini ada sekitar 3.080 Ha yang tidak sempat tertanami, 239, 25 haktere yang sudah tanam terdampak kekeringan dan masih ada sekitar 1.725,25 haktar yang berpotensi kekeringan.

