Dari Nikel, Laut, hingga Biodiversitas: Saatnya Hilirisasi Berubah Menjadi Kedaulatan Sains
Oleh: Dr. Apt. Irman Idrus (Ka. LPPM Universitas Pelita Ibu)
Sulawesi Tenggara sedang berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa. Nikel menjadi komoditas strategis yang menempatkan Sulawesi Tenggara dalam peta industri nasional. Di sisi lain, wilayah ini memiliki laut yang luas, pesisir yang panjang, rumput laut, mangrove, lamun, mikroorganisme laut, biota pesisir, serta biodiversitas yang belum seluruhnya dipetakan nilai ilmiahnya. Namun, ada satu pertanyaan yang harus kita ajukan: apakah Sulawesi Tenggara sedang membangun kedaulatan ekonomi, atau hanya mempercepat eksploitasi sumber daya dalam bentuk yang lebih modern?
Pertanyaan ini penting karena hilirisasi tidak boleh dimaknai sebatas pembangunan smelter. Hilirisasi yang mengubah bijih menjadi produk antara memang menghasilkan nilai tambah. Namun, jika teknologi, riset strategis, paten, mesin, rantai pasok, dan penguasaan pengetahuan masih berada di luar daerah bahkan di luar negeri, Sulawesi Tenggara belum sepenuhnya menguasai nilai tambah tersebut. Kita hanya naik satu tingkat dari penjual bahan mentah menjadi pemasok bahan setengah jadi. Itu kemajuan, tetapi belum tentu kedaulatan.
Data pemerintah menunjukkan bahwa hilirisasi nikel telah meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. Kementerian ESDM mencatat nilai ekspor nikel dan turunannya meningkat dari sekitar USD 3,3 miliar pada 2017 menjadi USD 33,9 miliar pada 2024. Namun, keberhasilan angka ekspor tidak boleh membuat kita berhenti bertanya: siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, paten, rantai nilai, dan seberapa besar manfaat jangka panjang yang benar-benar tinggal di Sulawesi Tenggara?
Jangan Sampai Kaya Tambang, tetapi Miskin Pengetahuan
Persoalan terbesar Sulawesi Tenggara bukan kekurangan sumber daya alam, melainkan belum optimalnya kemampuan mengubah kekayaan tersebut menjadi pengetahuan dan inovasi. Nikel ada, laut ada, rumput laut ada, mangrove ada, perikanan ada, dan biodiversitas ada. Namun, apakah kita memiliki laboratorium yang mampu mengidentifikasi senyawa baru dari organisme laut? Apakah kita memiliki pusat riset yang mampu mengembangkan rumput laut menjadi bahan baku farmasi, pangan fungsional, kosmetik, atau biomaterial? Apakah anak-anak muda Sulawesi Tenggara dipersiapkan menjadi ilmuwan, inventor, teknolog, ahli bioteknologi, ahli material, dan pengembang produk?
Inilah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar berapa banyak ton nikel yang ditambang. Sulawesi Tenggara harus mulai menghitung bukan hanya tonase sumber daya alam, tetapi juga paten, publikasi berkualitas, teknologi yang dikuasai, produk inovasi, industri lokal, laboratorium, SDM unggul, dan nilai ekonomi yang lahir dari pengetahuan. Sebab pada abad ke-21, sumber daya alam tanpa penguasaan ilmu pengetahuan hanya akan membuat daerah kaya untuk sementara.
Nikel Tidak Boleh Mengubur Laut
Ada ironi dalam pembangunan Sulawesi Tenggara. Kita berbicara tentang hilirisasi mineral, tetapi pada saat yang sama harus memastikan sektor pesisir dan kelautan tidak menjadi korban industrialisasi. Nikel memang penting, tetapi laut juga penting. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang harus dipertentangkan adalah pembangunan yang mengabaikan biaya ekologis dengan pembangunan yang berbasis pengetahuan dan keberlanjutan.
Pengembangan industri nikel menghadapi tantangan lingkungan, tata ruang, energi, dan kebutuhan tenaga kerja terampil. Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari investasi yang masuk. Kita harus menghitung pula kondisi pesisir, kesejahteraan nelayan, manfaat bagi masyarakat, kualitas air dan ekosistem laut, investasi riset lingkungan, serta teknologi yang lahir dari perguruan tinggi. Jika pertanyaan tersebut tidak dijawab, kita berisiko membangun industri besar dengan meninggalkan ekosistem sosial dan ekologis yang semakin kecil.
Hilirisasi Jangan Berhenti di Smelter
Sudah saatnya Sulawesi Tenggara memperluas makna hilirisasi. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan sumber daya menjadi produk setengah jadi, tetapi harus dilanjutkan ke penguasaan industri, teknologi, pengetahuan, dan manusia. Perguruan tinggi serta lembaga riset harus menjadi bagian inti dari ekosistem industri, sementara masyarakat lokal harus menjadi pemilik masa depan ekonomi, bukan sekadar tenaga kerja.
Karena itu, kita perlu membangun pohon industri yang benar-benar berakar di Sulawesi Tenggara. Bahan mentah harus menjadi produk, produk harus melahirkan teknologi, teknologi harus melahirkan pengetahuan, dan pengetahuan harus menghasilkan nilai ekonomi yang kembali kepada masyarakat.
Laut Sulawesi Tenggara Belum Dibaca Secara Serius
Sulawesi Tenggara tidak boleh hanya melihat laut sebagai tempat menangkap ikan atau memproduksi rumput laut. Laut harus dilihat sebagai perpustakaan molekul yang belum selesai kita baca. Rumput laut dapat menjadi sumber polisakarida, antioksidan, pigmen, metabolit sekunder, pangan fungsional, biomaterial, hingga bahan baku kosmetik dan farmasi. Mangrove, lamun, spons, mikroalga, dan berbagai organisme pesisir juga menyimpan potensi biologis yang dapat diteliti dan dikembangkan.
Di dalam biodiversitas terdapat molekul, di dalam molekul terdapat aktivitas biologis, di dalam aktivitas biologis terdapat peluang teknologi, dan di dalam teknologi terdapat nilai ekonomi. Inilah ekonomi biru yang sesungguhnya: menemukan nilai baru melalui ilmu pengetahuan tanpa merusak sumber dayanya.
Sulawesi Tenggara Harus Memiliki Agenda Riset Sendiri
Sulawesi Tenggara membutuhkan agenda riset kelautan dan biodiversitas yang spesifik untuk daerah, bukan sekadar mengikuti tren penelitian nasional. Penelitian harus diarahkan pada penemuan senyawa bioaktif, pengembangan bahan baku obat dan kosmetik, pangan fungsional, biomaterial, teknologi pengolahan hasil laut, pemanfaatan limbah industri, serta penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Yang tidak kalah penting adalah kepemilikan atas pengetahuan dan teknologi. Jangan sampai bahan bakunya berasal dari Sulawesi Tenggara, tetapi pengetahuannya dimiliki orang lain, teknologinya dikembangkan di tempat lain, patennya dimiliki pihak lain, produknya dipasarkan pihak lain, sementara masyarakat lokal hanya menerima harga bahan baku. Jika itu terjadi, kita belum melakukan hilirisasi pengetahuan.
Asta Cita Harus Hadir di Sulawesi Tenggara
Asta Cita Presiden Prabowo harus diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret di daerah. Kemandirian melalui ekonomi hijau dan biru, penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan industri, pembangunan SDM, sains dan teknologi, hilirisasi, pembangunan desa, serta perlindungan lingkungan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan Sulawesi Tenggara.
Jika Asta Cita berbicara tentang sains, kita harus memperkuat laboratorium dan peneliti. Jika berbicara tentang hilirisasi, industri harus bergerak lebih jauh dari sekadar pengolahan bahan mentah. Jika berbicara tentang ekonomi biru, laut harus menjadi basis inovasi. Jika berbicara tentang pembangunan desa, desa pesisir harus menjadi pusat produksi dan inovasi. Asta Cita harus turun dari Jakarta dan hadir dalam kebijakan nyata di Sulawesi Tenggara.
Pemerintah dan Perguruan Tinggi Harus Berubah
Pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadi administrator investasi. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak investasi yang masuk, tetapi apa yang kita dapatkan selain uang? Apakah teknologi berpindah? Apakah SDM lokal naik kelas? Apakah perguruan tinggi dilibatkan? Apakah UMKM masuk rantai pasok? Apakah masyarakat pesisir memperoleh manfaat?
Perguruan tinggi juga tidak boleh menjadi penonton industri. Jika daerah memiliki nikel, kembangkan teknologi pertambangan berkelanjutan, material, energi, pengolahan limbah, reklamasi, dan teknologi hilir. Jika daerah memiliki laut, kembangkan biodiversitas, metabolomik, bioteknologi, farmasi bahan alam, pangan fungsional, kosmetik, biomaterial, dan teknologi hasil laut. Penelitian tidak boleh berhenti di jurnal. Penelitian harus bergerak menjadi paten, prototipe, teknologi, produk, industri, lapangan kerja, dan kesejahteraan.
Jangan Wariskan Lubang Tambang dan Laut yang Rusak
Kita sering berbicara tentang Sulawesi Tenggara 2045. Namun, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana pertumbuhan ekonomi saat itu, melainkan Sulawesi Tenggara seperti apa yang akan kita wariskan? Apakah anak cucu kita menerima industri maju, universitas kuat, ilmuwan hebat, teknologi sendiri, masyarakat pesisir sejahtera, laut sehat, dan ekonomi yang beragam? Atau mereka menerima lubang tambang, pesisir yang tertekan, ketergantungan teknologi luar, dan ekonomi yang masih bergantung pada harga komoditas?
Kita harus memilih paradigma baru: dari eksploitasi menuju inovasi, dari komoditas menuju pengetahuan, dari bahan mentah menuju produk bernilai tinggi, dari tenaga kerja murah menuju SDM berteknologi tinggi, dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi biru yang berkelanjutan, dan dari pasar teknologi menuju pencipta teknologi.
Sulawesi Tenggara Harus Berani Bermimpi Lebih Besar
Sulawesi Tenggara tidak boleh hanya bercita-cita menjadi daerah penghasil nikel. Itu terlalu kecil untuk kekayaan yang kita miliki. Kita harus bercita-cita menjadi salah satu pusat riset mineral, material, kelautan, biodiversitas, farmasi bahan alam, bioteknologi, dan ekonomi biru Indonesia.
Kita harus mampu mengatakan kepada pemerintah pusat: kami tidak hanya ingin mengirim bahan mentah, tetapi ingin mengirim teknologi, produk inovasi, paten, ilmuwan, produk farmasi dan pangan fungsional, material maju, serta produk industri berbasis biodiversitas laut. Yang paling penting, anak-anak Sulawesi Tenggara harus menjadi pemilik masa depan ekonominya sendiri.
Sebab pada akhirnya, kedaulatan sebuah daerah tidak ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang dimilikinya, tetapi oleh seberapa besar kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi pengetahuan, teknologi, nilai tambah, dan kesejahteraan yang bertahan lintas generasi.
Sulawesi Tenggara tidak boleh hanya kaya karena tanahnya. Sulawesi Tenggara harus kuat karena ilmunya. Lautnya harus dibaca, nikelnya harus diolah, biodiversitasnya harus diteliti, teknologinya harus dikuasai, dan pengetahuannya harus menjadi kekuatan bangsa serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
