Penulis :
Dr. apt. Irman Idrus (Ka. LPPM UNIVERSITAS PELITA IBU)
Indonesia adalah negeri yang terlalu kaya untuk hanya menjadi penjual bahan mentah. Di sepanjang garis pantainya, tersimpan laboratorium alam yang belum sepenuhnya kita baca: rumput laut, lamun, mangrove, mikroalga, spons, moluska, dan beragam organisme laut yang menghasilkan senyawa bioaktif dengan potensi untuk dikembangkan menjadi obat, pangan fungsional, kosmetik, biomaterial, hingga berbagai produk bioteknologi.
Namun, di sinilah paradoks besar Indonesia sebagai negara maritim. Kita memiliki laut yang luas, biodiversitas yang luar biasa, serta masyarakat pesisir yang mewarisi pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya alam. Tetapi kekayaan tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdiri di atas kaki sendiri.
Selama kekayaan hayati laut hanya dipanen, dikeringkan, dikemas, lalu dijual sebagai komoditas, kita sesungguhnya baru mengambil sebagian kecil dari nilai yang dikandungnya. Nilai terbesar justru berada pada pengetahuan tentang apa yang terkandung di dalamnya, bagaimana memurnikannya, bagaimana membuktikan khasiatnya, bagaimana mengembangkan teknologinya, dan bagaimana mengubahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Karena itu, sudah waktunya cara pandang kita terhadap laut berubah. Laut bukan sekadar sumber ikan. Pesisir bukan sekadar tempat produksi rumput laut. Biodiversitas laut bukan sekadar daftar spesies dalam buku inventarisasi. Di dalamnya terdapat potensi pengetahuan, teknologi, kesehatan, pangan, energi, industri, dan masa depan ekonomi Indonesia.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi “Apa yang bisa kita ambil dari laut?”, tetapi “Pengetahuan dan teknologi apa yang mampu kita lahirkan dari laut?”
Di titik inilah gagasan tentang kedaulatan sains menjadi penting.
