![]() |
| Ilustrasi |
Nurani perlahan hilang dari peradaban ketika adab tidak lagi menjadi sebuah kebiasaan di tengah kesibukan dalam berperilaku. Viralnya kasus kematian Yurizaltrich adalah sebuah fenomena adab yang perlahan hilang dari sebagian dokter tak berperilaku kemanusiaan. Bagaimana bisa profesi kemanusiaan justru menjadi kesombongan fatal yang tak bisa ditoleransi dengan permintaan maaf. Mentalitas pasien yang merasakan sakit menambah luka dengan hujatan tak bermoral tanpa ampun, bukan satu dua orang tapi lima orang seperti sebuah kelompok yang menohok langsung pada pasien.
Apakah cibiran itu mampu menyembuhkan luka pasien, ataukah justru menambah luka dan pada akhirnya meninggal? Itulah yang terjadi saat ini ketika adab tak lagi sejalan dengan pendidikan maka moral hilang dari peradaban. Ketika dokter dan semua pihak kesehatan yang harusnya menenangkan justru membuat pasien meninggal karena kata menyakitkan.
Bukan karena ruangan tak tersedia membuat kasus ini viral namun hujatan sebagian Nakes yang bersangkutan membuat manusia geram. Bila pun lelah, tidak sepatutnya hinaan dari profesi kemanusiaan dikeluarkan untuk pasien. Profesi yang harusnya memiliki simpati lebih untuk pasien justru membuat mentalitas pasien menjadi sebuah luka mendalam.
Tak bisa dipungkiri kelelahan dokter menangani pasien itu sudah menjadi sebuah rutinitas, lelah pasti ada, dan harus dimaklumi, namun kelelahan itu bukan berarti harus mengeluarkan omongan yang mampu menyakiti perasaan pasien. Pasien juga menunggu dalam waktu delapan jam dengan keadaan sakit tak berdaya bukanlah hal yang mudah baginya. Pikirkan saja, jika kalian sehat dan bisa lelah, bagaimana yang sakit. Jika memang adab dinormalisasikan oleh pihak kesehatan yang terkait, maka cibirannya kepada pasien tidak sekejam itu hingga luka mentalitas membawanya pergi.
(Andin)
