Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

SELAMAT DATANG DI WEBSITE JEJARISULTRA.COM TEGAS DAN TERPERCAYA

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketua Umum JMSI: Jurnalisme Harus Berperan dari Hulu ke Hilir, Bukan Sekadar "Pemadam Kebakaran"

Jumat, 10 Juli 2026 | Juli 10, 2026 WIB Last Updated 2026-07-11T01:55:17Z


Ketua Umum JMSI: Jurnalisme Harus Berperan dari Hulu ke Hilir, Bukan Sekadar "Pemadam Kebakaran"


JEJARISULTRA.COM– Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, menegaskan bahwa jurnalisme seharusnya bekerja secara menyeluruh dari hulu ke hilir, tidak sekadar menjadi "pemadam kebakaran" yang hanya merespons kejadian setelah terjadi. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara bedah buku berjudul "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" karya Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, di PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (10/7/2026).


Menurut Teguh, jurnalisme secara ideal harus berperan dalam memitigasi persoalan kemanusiaan sejak dini. Ia mencontohkan, daripada hanya membantu korban kerusakan lingkungan, insan pers sebaiknya juga mengawal kebijakan tata kelola lingkungan agar tidak merusak alam dan menciptakan ketimpangan ekstrem yang memicu persoalan kemanusiaan.


"Tidak cukup kita hanya bergerak untuk membantu korban kerusakan lingkungan. Ada hal di hulu yang harus kita lakukan untuk memitigasi jatuhnya korban. Misalnya dengan mengawal kebijakan tata kelola lingkungan sehingga tidak merusak alam dan kebijakan pembangunan tidak malah menciptakan ketimpangan yang ekstrem," ujar Teguh dalam diskusi yang juga menghadirkan Pemimpin Redaksi CNN Titin Rosmasari, Direktur tvMu Dr. Makroen Sanjaya, dan Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais. Acara dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Rahmad.


Dalam kesempatan itu, Teguh memberikan apresiasi tinggi kepada Roni Tabroni atas peluncuran buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai pengalaman intelektual yang sangat berarti. Dengan nada bercanda khasnya, Teguh bahkan menyarankan agar pada cetakan berikutnya ditambahkan kata "memang" pada judul buku sehingga menjadi "Memang Jurnalisme untuk Kemanusiaan".


Teguh juga menyoroti tantangan era digital yang kerap membuat jurnalisme terjerembab dalam perangkap algoritma, sehingga hanya membicarakan hal-hal superfisial dan artifisial. Karena itu, ia mengajak masyarakat pers memiliki kesadaran kolektif untuk mencegah praktik jurnalisme menjadi "budak algoritma" yang justru menjauhkan dari isu-isu kemanusiaan substansial.


"Jurnalisme tidak dapat dipisahkan dengan aspek kemanusiaan. Kemanusiaan sudah sepatutnya menjadi fondasi utama dalam praktik jurnalisme," tegas Teguh.


Di akhir pernyataannya, ia berharap diskusi ini menjadi momentum bagi para pengelola media untuk kembali meneguhkan komitmen pada tugas suci jurnalisme, yaitu bekerja untuk kemanusiaan.


Sementara itu, Dr. Roni Tabroni menjelaskan bahwa buku ini hadir sebagai kelanjutan dari karya sebelumnya yang lebih berorientasi teoretik. Buku ini lahir dari dua realitas besar: dunia jurnalisme yang kehilangan relevansi sosial di era disrupsi digital, dan Indonesia sebagai negara dengan masyarakat paling dermawan di dunia.


"Buku ini menawarkan paradigma baru, yakni jurnalisme yang tidak sekadar melaporkan realitas sosial, tetapi juga turut bergerak sebagai katalisator perubahan," ujarnya.


Secara sistematis, buku ini menguraikan fondasi filosofis hingga teknik operasional, termasuk framework tiga zona Merah-Kuning-Hijau dan framework P3 (Penyadaran–Pemberdayaan–Perubahan) sebagai kontribusi orisinal, serta panduan teknis liputan berbasis data dan narasi.


Roni Tabroni adalah Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Bandung yang aktif dalam bidang komunikasi, media, dan kebijakan publik. Ia pernah menjabat sebagai Komisioner KPID Jawa Barat (2020–2024) dan kini menjadi Ketua Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung. Di lingkungan Muhammadiyah, ia menjabat sebagai Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah periode 2022–2027. (KUS)

×
Berita Terbaru Update