Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

SELAMAT DATANG DI WEBSITE JEJARISULTRA.COM TEGAS DAN TERPERCAYA

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ribuan Hektare Sawah di Desa Bou Koltim Gagal Panen Akibat Kemarau Panjang

Senin, 17 Agustus 2026 | Agustus 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-17T12:03:59Z

 


KOLAKA TIMUR, JEJARISULTRA.COM – Ribuan hektare lahan persawahan di Desa Bou, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) gagal panen akibat kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Petani setempat hanya bisa meratapi nasib menyaksikan tanamannya hangus terbakar terik matahari.


Dari total lahan sawah di Desa Bou yang mencapai 1.200 hektare lebih, sebagian besar mengalami kekeringan parah dan sudah mati. Petani Bou, Rudianto, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi yang dialami para petani di desanya.


"Tinggal meratapi padi sawahnya yang sudah hangus terbakar akibat kemarau panjang. Desa Bou 1.200 hektar lebih mengalami kekeringan, sebagian sudah mati," ujar Rudianto, kemarin.


Rudianto berharap Pemerintah Daerah dapat segera turun tangan menangani persoalan ini.


"Saya harap mendapat pendampingan dari pemerintah daerah, khususnya dinas pertanian. Kami butuh pendampingan sebagai solusi terbaik, baik itu sumur bor. Pemda harus turun langsung di lapangan melihat kondisi sebenarnya yang dialami petani di Desa Bou, Kecamatan Lambandia, Koltim," tegasnya.


Ia menyayangkan hingga saat ini belum ada sumur bor atau bantuan lain yang diberikan kepada petani.


"Belum ada sumur bor atau bantuan lainnya. Mudah-mudahan bisa dilihat langsung kondisi lapangan. Ratusan hektar sudah hangus," harapnya.


Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kolaka Timur, Ridwan, membenarkan kondisi kekeringan yang melanda Desa Bou. Menurutnya, sebagian besar sawah di desa tersebut merupakan sawah tadah hujan, sehingga suplai air sangat bergantung pada kondisi curah hujan.


"Memang sebagian besar sawah di Desa tersebut adalah sawah tadah hujan. Suplai airnya tergantung kondisi hujan. Sementara saat ini kita masuk dalam kondisi El Nino," jelas Ridwan.


Ia menyampaikan bahwa upaya pompanisasi juga terkendala karena sumber air yang ada selama ini sudah kering. Bahkan, bantuan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dialokasikan ke daerah tersebut tidak mampu memasok kebutuhan air karena debitnya yang kecil.


"Beberapa tindakan yang dapat dilakukan, misalnya pompanisasi, juga terkendala karena sumber air yang ada selama ini sudah kering. JIAT yang dialokasikan ke sana juga tidak mampu memasok kebutuhan air untuk persawahan karena debitnya juga kecil," paparnya.



Ridwan menambahkan, pihaknya saat ini terus mendata sawah-sawah yang terdampak untuk dilaporkan sebagai bahan koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang dapat memberikan bantuan, seperti Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV Sultra, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).


"Untuk di wilayah yang masih memiliki sumber air, kami saat ini berkolaborasi dengan BPBD untuk menyuplai air ke area pertanaman dengan menggunakan mobil tangki, sebagaimana yang kita lakukan di Desa Keisio, Kecamatan Lalolae," ujarnya.


Ridwan juga menyampaikan bahwa pada bulan Juli lalu, pihaknya telah mengusulkan bantuan pompa ke Kementerian Pertanian untuk dialokasikan ke lokasi sawah yang masih memiliki sumber air yang dapat dipompa.


"Bulan Juli kemarin kami juga sudah mengusulkan bantuan pompa ke Kementerian untuk dialokasi ke lokasi sawah yang masih memiliki sumber air yang dapat dipompa," pungkasnya.


Para petani berharap bantuan segera datang sebelum musim tanam berikutnya tiba, mengingat mereka saat ini tidak memiliki cadangan benih akibat gagal panen total. (kus)

×
Berita Terbaru Update