KONAWE SELATAN, JEJARISULTRA. COM _Operasional PT. Inti Wijaya Nusantara (WIN) di semua wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) kini berhenti total, setelah rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tidak dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, tahun 2026.
Dahulu, PT ini mampu menopang kehidupan ekonomi masyarakat di beberapa wilayah diantaranya, Desa Torobulu, Desa Wonua Kongga, Desa Mondoe, Desa Wawo Wonua, dan Desa Labokaeo, namun hari ini sisa cerita yang layak dikenang, dikarenakan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pihak perusahaan.
Haldin (47), warga Desa Wonua Kongga Dusun Satu berprofesi sebagai nelayan, mengaku sangat terpukul dengan berhentinya aktivitas PT WIN. Sebelumnya, dia mampu mengantongi penghasilan hingga Rp 2.500.000 yang digunakan untuk biaya sekolah dua orang anaknya yang kini duduk di kelas tiga SMA dan tiga SMP. Namun saat ini, ia tak lagi memiliki pemasukan tetap.
"Penghasilan sebagai nelayan sangat tidak menentu, kadang cuma dapat Rp 50.000, pun itu ada tidaknya tergantung cuaca. Keberadaan PT WIN dulu sangat membantu masyarakat," ujar Haldin dengan nada lesu dan penuh harap agar semuanya kembali seperti dahulu.
Senada dengan Haldin, Muhammad Ali (30), warga Wonua Kongga yang pernah menjadi operator ekskavator di PT WIN selama sembilan tahun, kini tak memiliki pekerjaan dalam dua tahun terakhir, padahal dahulu dari hasil keringatnya dia mampu membangun rumah impiannya, tidak hanya itu dia juga mampu menyekolahkan anaknya.
"Sekarang kebutuhan sehari-hari, saya harus berhemat. Besar harapan saya, kepada perusahaan untuk direkrut kembali jika perusahaan berjalan lagi," Ujar Muhammad Ali menggantungkan hidupnya pada perusahaan.
Laudi (70), warga Desa Wonua Kongga, menambahkan bahwa kehadiran PT WIN sangatlah membantu masyarakat, khususnya melalui program dana Kondep yang dirasakan hampir setiap rumah. "Dana kondep sangat membantu ekonomi sehari-hari. Setelah perusahaan berhenti, penghasilan menurun drastis. Kami sangat mengharapkan PT WIN terus beroperasi di Torobulu," tuturnya penuh harap.
Di sisi lain, Rahmawati (60), pedagang kios di Torobulu, Kecamatan Laea, mengaku omzet penjualannya anjlok drastis. "Dulu pendapatan sangat menjanjikan, sekarang pembeli sangat sepi. Pendapatan kami sangat minim. Penjual-penjual lesu, hingga kami mengurangi pembelanjaan," ungkapnya.
Ia menceritakan, dahulu ia bisa mendapatkan omzet Rp 1-2 juta per hari. "Sekarang Rp 300.000 ribu saja sangat sulit baginya. Ini sangat berdampak berhentinya perusahaan," tambahnya.
Ia juga menyebutkan bahwa PT WIN sebelumnya banyak memberikan bantuan dan modal usaha kepada warga, termasuk dana kondep. Namun sejak perusahaan berhenti, salah satu penjual nasi kuning pun ikut berhenti beroperasi, lantaran pembelinya bisa dihitung jari karena sepi.
“Pembeli saat ini kurang, maka kami memilih tutup daripada kami rugi. Saya sangat berharap operasional perusahan bisa dilanjutkan kembali," kata Rahmawati penuh harapan.
Filahawati, pelaku UMKM di Torobulu, mengungkapkan bahwa biasanya kios dan lapak dagangannya ramai dikunjungi, terutama ketika ada perlombaan desa yang disponsori perusahaan. Kini, kondisi berbalik 180 derajat.
"Biasanya omzet malam bisa mencapai Rp 600.000 bahkan lebih, sekarang cuma Rp 400.000 saja sudah sangat sulit. Waktu PT WIN masih beroperasi kami baru pulang jam 07.00 atau habis magrib, sekarang kami memilih pulang ke rumah jam 09.00 malam, lantaran sepinya," keluhnya kehilangan PT Win
Filahawati juga memberikan gambaran para penjual gorengan yang dulu laris manis kini sepi pembeli karena aktivitas tambang terhenti. "Karyawan yang pulang kantor atau pergi ke kantor sering belanja pada kami, sehingga putaran ekonomi di sini sangat bagus. Kami sangat mendukung operasional PT WIN berjalan lagi supaya ekonomi berputar baik," tambahnya.
Sementara itu, Faisal, Kepala Dusun II Desa Torobulu, turut mengonfirmasi dampak ekonomi yang meluas. Menurutnya, sebelum PT WIN berhenti, aktivitas jual-beli di desanya sangat hidup. "Dahulu bakso bisa antri, saat ini sangat sepi. Perbedaan sangat terasa di pasar dan lapangan usaha mikro," ujarnya.
Faisal menekankan bahwa keuntungan perusahaan tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, Faisal mencatat banyak dari rumah warga yang kini sudah permanen berkat hasil dari kerja di tambang. "Kami sangat berharap agar perusahaan ini bisa berlanjut. Roda ekonomi harus berputar lagi," tegasnya.
Suswanto, warga Desa Mondoe, mengungkapkan bahwa sebelum perusahaan tutup, ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. "Saya punya dua anak yang masih SD. Dari hasil bekerja, saya bisa membangun rumah untuk keluarga saya," ujarnya bangga.
Ia menambahkan bahwa keberadaan PT WIN sangat membantu perekonomian keluarganya. Namun, setelah terkena PHK, kehidupannya terpukul. "Saya sangat berharap perusahaan bisa segera dibuka kembali. Saat ini kami masih menunggu pihak perusahaan," kata Suswanto.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Torobulu, Nilham menyampaikan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, apalagi mereka dulu berpenghasilan bulanan lalu kemudian diberhentikan secara tiba-tiba, maka mereka harus mencari sumber pendapatan lain yang mampu menopang keluarganya meskipun pendapatannya sudah tidak tetap seperti yang diberikan oleh perusahaan.
Tentunya, akan berdampak langsung dengan ekonomi keluarga dalam menjalankan kehidupan mereka sehari-hari. Apalagi pekerja tersebut memiliki utang-piutang yang sangat berpengaruh untuk membayar tunggakannya setiap bulan.
Olehnya itu, Kepala Desa Torobulu sangat mengharapkan keberlanjutan aktivitas PT WIN di Torobulu dan sekitarnya bisa kembali berjalan seperti biasanya.
“Banyak sinergitas perusahan dengan pemerintah setempat, mulai dari bantuan ekonomi kepada warga, bantuan karang taruna dan lainnya. Kami pemerintah desa sangat terbantu dan mendukung kembali PT WIN bisa jalan lagi dengan memperoleh RKAB.
Ditambahkan, Plt. Kades Wonua Kongga, La Ode Arwan, S. Sos mengatakan, sekitar lima puluh warganya menggantungkan kehidupannya pada perusahaan PT WIN, kini mereka tak bekerja karena dampak dari PHK.
"Kebanyakan dari mereka yang di PHK memilih menganggur, tetapi masih ada yang melakukan aktivitas di kebun, nelayan dan usaha lainnya," ujar La Ode Arwan.
Dia menambahkan, kehadiran PT WIN sangat membantu masyarakat Wonua Kongga, contohnya penyaluran bantuan beras, bantuan dana kondep. Tidak hanya itu, PT WIN juga membantu membuka jalan di lokasi pemakaman umum. Jiwa sosial yang diterapkan PT WIN membuat warga terbantu. Adanya jembatan perahu yang dibuatnya, maka pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri PT WIN memberikan bantuan beras dan mie yang diterima oleh 242 Kepala Keluarga.
"Kita sangat berharap PT WIN segera beroperasi kembali seperti sediakala, untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi kerakyatan," jelasnya.
Senada itu Kades Wawo Wonua, Anwar menyampaikan, sekitar enam puluh warganya bekerja di perusahaan PT WIN, tentunya selama ini mereka menggantungkan hidup di perusahaan tersebut.
"Mereka sudah tidak bekerja dan masih menganggur, menunggu dan berharap perusahaan berjalan lagi. Memang ex karyawan sangat terbantu khusus warga WawoWonua karena mereka tidak memilih pergi dan memilih untuk tetap menunggu.
“Dengan adanya PT WIN mampu mengurangi pengangguran, maka masalah di daerah ini bisa dibilang hampir tidak ada sama sekali. Harapan kita, RKAB cepat keluar dan perusahaan kembali berjalan agar pertumbuhan ekonomi di daerah ini bisa meningkat lagi.
Saat ini UMKM lumpuh total, tidak hanya pekerja yang berhemat namun pelaku UMKM juga memilih berhemat. Selama ini mereka menjajakan produk makanannya demi sesuap nasi, karena tidak memiliki sawah, mereka kesulitan apalagi tidak ada pekerja tambang yang membeli produknya.
"PT WIN sangat membantu karena warga selalu mendapatkan bantuan beras, tandom, bantuan masjid, Dana Kondep. Sekarang sudah tidak ada lagi," ucap Anwar
Kepala Desa Mondoe, Aswan, mengungkapkan data yang lebih konkret. Setidaknya ada tujuh puluh karyawan dari desanya yang kini menganggur tanpa kepastian solusi. Sebelum tutup, warga bisa merasakan pendapatan di atas Rp.1.000.000 per bulan dari sektor tambang. Kini, mendapatkan Rp 500.000 pun terasa sangat sulit.
"Pemerintah Desa sangat mendukung penuh PT WIN, karena ini salah satu penggerak ekonomi kerakyatan. Sebelum ada perusahaan, penghasilan warga minim, namun disaat perusahaan hadir, maka pendapatan mereka jauh lebih meningkat. Saat ini, semuanya kembali seperti semula. Kembali menjadi nol," jelas Aswan.
Aswan juga menyoroti terhentinya berbagai bantuan sosial yang biasa disalurkan perusahaan, seperti sembako, bantuan sumur bor, menara komunikasi (tower), serta uang tunai untuk mahasiswa sesuai SPP. Bahkan, anak SD tidak mampu di desanya yang sebelumnya mendapat dana bantuan Rp 2.500.000 kini tidak lagi menerima apa pun.
"Kami berharap RKAB bisa segera keluar supaya perusahaan cepat operasional kembali. Selama RAKB belum terbit, dana dampak sosial juga tidak mengalir ke masyarakat," pungkas Aswan dengan harapannya. (Kusdin).
